Rabu, 16 Januari 2013

aksesoris handmade


gimana??????? ini namanya biku-biku lace lucukan namanya ..
hehehe ini adalah hasil orang yang biasanya gak pernah rapi kalau buat sesuatu eh ternyata buat yang ini langsung berhasil... hehehehe....
ini semua handmade loch..


Senin, 02 Januari 2012

RPP

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
Mata Pelajaran    : Bahasa Indonesia
Kelas                                   : VI
Semester                             : 1
Jumlah Pertemuan             : 1
Alokasi Waktu    : 2x 35
A. Standar Kompetensi
Mendengarkan
1.        Memahami teks dan cerita anak yang dibacakan.
B. Kompetensi Dasar
1.2 Mengidentifikasi tokoh, watak, latar, tema atau amanat dari cerita anak yang dibacakan.
C. Indikator
1.      Dapat mengidentifikasi tokoh,watak, tema, atau amanat dari cerita yang dibacakan.
2.      Dapat menyebutkan tokoh, watak, tema, atau amanat dari cerita yang dibacakan.
D. Tujuan Pembelajaran
1.      Siswa dapat mengidentifikasi tokoh, watak, tema, atau amanat daricerita yang dibacakan
2.      Siswa dapat menyebutkan tokoh, watak, tema, atau amanat, dari cerita yang dibacakan.
E. Materi
Unsur intrinsik cerita :
Tokoh             : merupakn pelaku yang berada dalam cerita
Watak             : sifat para tokoh yang ada dalam cerita
Tema              : dasar yang membentuk suatu cerita.
Amanat          : pesan moral yang ingin disampaikan kepada pembaca.
  Cerita anak.
Si kancil dan Si siput
Pada suatu hari si kancil nampak ngantuk sekali. Matanya serasa berat sekali untuk dibuka. “Aaa....rrrrgh”, si kancil nampak sesekali menguap. Karena hari itu cukup cerah, si kancil merasa rugi jika menyia-nyiakannya. Ia mulai berjalan-jalan menelusuri hutan untuk mengusir rasa kantuknya. Sampai di atas sebuah bukit, si Kancil berteriak dengan sombongnya, “Wahai penduduk hutan, akulah hewan yang paling cerdas, cerdik dan pintar di hutan ini. Tidak ada yang bisa menandingi kecerdasan dan kepintaranku”.
Sambil membusungkan dadanya, si Kancil pun mulai berjalan menuruni bukit. Ketika sampai di sungai, ia bertemu dengan seekor siput. “Hai kancil !”, sapa si siput. “Kenapa kamu teriak-teriak? Apakah kamu sedang bergembira?”, tanya si siput. “Tidak, aku hanya ingin memberitahukan pada semua penghuni hutan kalau aku ini hewan yang paling cerdas, cerdik dan pintar”, jawab si kancil dengan sombongnya.
“Sombong sekali kamu Kancil, akulah hewan yang paling cerdik di hutan ini”, kata si Siput. “Hahahaha......., mana mungkin” ledek Kancil. “Untuk membuktikannya, bagaimana kalau besok pagi kita lomba lari?”, tantang si Siput. “Baiklah, aku terima tantanganmu”, jawab si Kancil. Akhirnya mereka berdua setuju untuk mengadakan perlombaan lari besok pagi.
Setelah si Kancil pergi, si siput segera mengumpulkan teman-temannya. Ia meminta tolong agar teman-temannya berbaris dan bersembunyi di jalur perlombaan, dan menjawab kalau si kancil memanggil.
Akhirnya hari yang dinanti sudah tiba, kancil dan siput pun sudah siap untuk lomba lari. “Apakah kau sudah siap untuk berlomba lari denganku”, tanya si kancil. “Tentu saja sudah, dan aku pasti menang”, jawab si siput. Kemudian si siput mempersilahkan kancil untuk berlari dahulu dan memanggilnya untuk memastikan sudah sampai mana si siput.
Kancil berjalan dengan santai, dan merasa yakin kalau dia akan menang. Setelah beberapa langkah, si kancil mencoba untuk memanggil si siput. “Siput....sudah sampai mana kamu?”, teriak si kancil. “Aku ada di depanmu!”, teriak si siput. Kancil terheran-heran, dan segera mempercepat langkahnya. Kemudian ia memanggil si siput lagi, dan si siput menjawab dengan kata yang sama.”Aku ada didepanmu!”
Akhirnya si kancil berlari, tetapi tiap ia panggil si siput, ia selalu muncul dan berkata kalau dia ada depan kancil. Keringatnya bercucuran, kakinya terasa lemas dan nafasnya tersengal-sengal.
Kancil berlari terus, sampai akhirnya dia melihat garis finish. Wajah kancil sangat gembira sekali, karena waktu dia memanggil siput, sudah tidak ada jawaban lagi. Kancil merasa bahwa dialah pemenang dari perlombaan lari itu.
Betapa terkejutnya si kancil, karena dia melihat si siput sudah duduk di batu dekat garis finish. “Hai kancil, kenapa kamu lama sekali? Aku sudah sampai dari tadi!”, teriak si siput. Dengan menundukkan kepala, si kancil menghampiri si siput dan mengakui kekalahannya. “Makanya jangan sombong, kamu memang cerdik dan pandai, tetapi kamu bukanlah yang terpandai dan cerdik”, kata si siput. “Iya, maafkan aku siput, aku tidak akan sombong lagi”, kata si kancil.
F. Metode
1.      Ceramah
2.      Permainan
3.      Evaluasi
G. Kegiatan Belajar Mengajar
Pertemuan Pertama
1.      Kegiatan awal ( 5 menit)
a.    Guru menyiapkan siswa secara fisik dan psikis untuk mengikuti pelajaran
b.    Guru menyampaikan tujuan pembelajaran.
c.    Guru membagi siswa kedalam beberapa kelompok.
2.      Kegiatan Inti (55 menit)
a.    Guru menjelaskan megenai unsur-unsur intrinsik dalam cerita
b.    Guru membacakan sebuah cerita anak.
c.    Guru mengadakan satu permainan yang disebut “siapa cepat dia dapat”
d.    Guru memberikan petunjuk bagaimana permainan itu berlangsung.
e.    Setelah itu guru, menyuruh untuk dua kelompok maju kedepan.
f.     Kemudian setiap kelompok berhadapan satu sama lain untuk mengambil kartu yang telah disediakan dihadapan mereka yang merupakan jawaban dari potongan cerita yang akan dibacakan oleh guru.
g.    Guru membaca potongan cerita tersebut, lalu setiap kelompok mencari dari kartu yang ada dihadapanya.
h.     Kelompok yang menjadi pemenang adalah kelompok yang paling banyak menebak kartu.
i.     Guru memberikan soal kepada setiap siswa.
3.      Kegiatan Akhir (5 menit)
a. Guru dan Siswa bersama-sama menyimpulkan apa saja unsur-unsur instrinstik.
b. Guru menutup pelajaran.
H. Sumber
Buku Panduan Bahasa Indonesia untuk Kelas VI Sekolah Dasar.


I. Penilaian
a.    Teknik penilaian : tes tulis
Jawablah soal-soal dibawah ini dengan benar!
1. siapa sajakah tokoh di atas ? (skor 20)
2. sebutkan watak dari para tokoh cerita yang dibacakan ? (skor 20)
3. Sebutkan tema dari cerita diatas ? (skor 30)
4. Sebutkan amanat dari cerita yang dibacakan ? (skor 30)

Skor Penilaian : jumlah skor/ skor ideal x 100 =  .........











Sabtu, 31 Desember 2011

meningkatkan kemampuan berbahasa melalui cerita

BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Anak usia sekolah dasar pada umumnya menyukai dongeng ataupun cerita, baik cerita dalam buku maupun cerita yang diceritakan oleh orang lain. Bercerita merupakan salah satu metode yang tepat dalam meningkatkan kemampuan berbicara anak. “Melalui bercerita kemampuan berbahasa siswa akan terlihat. Bahkan tidak hanya bahasa namun juga ekspresi dan keterampilan gerak akan terkembangkan bersama cerita.” (Djuanda : 2008 :87). Kemampuan berbicara setiap anak berbeda-beda, hal ini menuntut keahlian seorang guru dalam melatih siswanya dengan sebaik mungkin. Maka dari itu kami akan memaparkan  tentang Meningkatkan Kemampuan Berbicara Siswa Lewat Bercerita. Berbicara mempunyai peranan yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari, karena berbicara merupakan alat komunikasi. Peningkatan kemampuan berbahasa lisan tersebut dimaksudkan agar anak-anak sekolah dasar mampu memahami pembicaraan orang lain.
B.       Rumusan Massalah
Ruang lingkup masalah yang akan dibahas dalam makalah ini dirumuskan sebagai berikut :
1. Apakah yang dimaksud dengan berbicara ?
2. Apakah yang dimaksud dengan bercerita ?
3. Bagaimanakan meningkatkan kemampuan berbicara melalui bercerita ?

C.      Tujuan dan Manfaat
Adapun tujuan penyusunan makalah ini adalah sebagai berikut :
1.     Mengetahui pengertian berbicara.
2.     Mengetahui pengertian bercerita.
3.     Mengetahui cara meningkatkan kemampuan berbicara melalui bercerita.

BAB II

PEMBAHASAN

A.       Berbicara
            Dalam kehidupan sehari-hari kita tidak lepas dari berbicara, karena dengan berbicara kita dapat menyampaikan ide, isi hati, maksud kepada orang lain sehingga orang lain dapat memahami apa yang kita sampaikan, hal ini tercantum dalam buku Depdikbud tahun 1984/1985. Adapun pengertian berbicara menurut Djago Tarigan (1990:149), berbicara merupakan keterampilan menyampaikan pesan melalui bahasa lisan. Sedangkan menurut H.G. Tarigan (1998:15),berbicara adalah kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan serta menyampaikan pikiran,gagasan dan perasaan.
Dalam proses belajar di sekolah, anak-anak mengembangkan kemampuan secara vertikal tidak secara horizontal. Maksudnya, mereka sudah dapat mengungkapkan pesan secara lengkap meskipun belum sempurna. Makin lama kemampuan tersebut menjadi semakin sempurna dalam arti strukturnya menjadi benar,pilihan katanya semaki tepat, kalimat-kalimatnya semakin bervariasi, dsb. Dengan kata lain perkembangan tersebut tidak secara horizontal mulai dari fonem, kata, frase, kalimat, dan wacana seperti halnya jenis tataran linguistik. (Ahmad Rofi’udin, Darmiyati Zuhud.1999:11).
1.   Berbicara adalah dua kegiatan resiprokal. Berbicara dan menyimak dua kegiatan yang berbeda namun tak dapat dipisahkan.
2.   Berbicara adalah proses individu berkomunikasi. Berbicara ada kalanya digunakan sebagai alat berkomunikasi dengan lingkungannya.
3.   Berbicara adalah ekspresi yang kreatif. Melalui berbicara kreatif, manusia melakukan tidak sekedar menyatakan ide, tetapi juga memanifestasikan kepribadiannya.
4.   Berbicara adalah tingkah laku yang dipelajari. Berbicara sebagai tingkah laku, sudah dipelajari oleh siswa di lingkungan keluarga, tetangga dan lingkungan lainnyaseputar tempat siswa itu hidup.
5.   Berbicara adalah pancaran kepribadian. Salah satu aspek yang dapat dijadikan acuan kepribadian adalah bagaimana seseorang itu berbicara. Berbicara pada hakikatnya melukiskan apa yang ada dalam hati, pikiran,perasaan,keinginan,idenya dan lain-lain.(Djuanda :2008 :87)
                                                           
Adapun tujuan berbicara adalah untuk berkomunikasi agar dapat menyampaikan maksud kepada orang lain, baik itu untuk menghibur, menginformasikan, meyakinkan dan lain-lain. Karena itu berbicara merupakan kebutuhan pokok yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Anak dengan kemampuan berbicara yang baik cenderung akan mudah bergaul dengan orang lain. Tujuan utama pembelajaran bicara di Sekolah Dasar adalah untuk melatih siswa agar bisa berbicara dalam Bahasa Indonesia dengan baik dan benar
B.       Bercerita
            Bercerita merupakan salah satu bentuk dari kegiatan berbicara, seorang guru memberikan atau menyajikan sebuah cerita dengan teknik bercerita, kemudian guru meminta siswanya bercerita mengenai cerita yang telah diberikan oleh gurunya.
            Alasan mengapa menggunakan cerita dalam meningkatkan kemampuan berbicara, karena anak menyukai cerita, cerita dapat memberi kesempatan pada anak untuk benar-benar menggunakan bahasa yang sebenarnya. Anak mendengarkan cerita karena mereka menginginkannya bukan karena paksaan, pemikiran beberapa ahli bahasa seperti Brewster, Rixon, Halliwel, Pedersen, Stocdale dll dalam buku Teaching English to Young Leaners.
Menceritakan cerita (telling story) bukanlah “ membacakan cerita tanpa melihat buku “, artinya guru tidak menghapal cerita dan menyampaikan secara sederhana kepada siswa, melainkan guru harus mengetahi cerita tersebut secara baik sehingga saat ia menceritakannya kepada siswa, cerita tersebut terlihat hidup, nyata, dan seakan dapat dilihat dan dibayangkan oleh siswa. Jika hal ini terjadi, maka sipendengar seakan-akan terlibat masuk kedalam cerita tersebut.(Diah Gusrayani,2010:154)
 Dalam bercerita ada langkah-langkah yang harus diperhatikan misalnya :
1.     Memilih sebuah cerita. Dalam memilih sebuah cerita hal yang paling penting adalah memilih cerita harus menarik.
2.     Menyiapkan diri untuk bercerita. Anak-anak diharuskan membaca dua kali atau lebih cerita yang akan dibacakan agar memahami isi dari cerita, sehingga dalam membacakan cerita di depan kelas anak dapat menceritakannya secara sistimatis.
3.     Property dalam bercerita. Agar cerita yang akan dibacaan anak dapat menarik, hendaknya anak dapat menggunakan beberapa teknik, salah satunya yaitu dengan menggunakan gambar, boneka, maupun barang-barang yang dapat menunjang cerita.
4.     Bercerita. Agar kegiatan bercerita dapat berjalan secara efisien, bercerita dapat dilakukan dalam kelompok-kelompok kecil.
            Dalam bercerita memerlukan kemampuan berbicara apalagi menceritakan sesuatu di depan umum. Bercerita merupakan kegiatan menyampaikan suatu kisah yang telah terjadi baik kejadian yang benar-benar terjadi maupun kejadian hasil rekayasa. Dalam bercerita memerlukan suatu metode yang tepat agar mencapai tujuan dalam pembelajaran, dalam hal ini yaitu berbicara.
Agar siswa menyukai cerita atau dongeng yang diceeritakan, dibutuhkan kemampuan guru untuk bercerita dengan baik misalnya intonasi yang tepat, ekspresi dalam bercerita, gestur tubuh pencerita,lafal maupun suara, di samping keenam kemampuan yang tadi, sistematikan atau alur ceritapun harus diperhatikan sehingga siswa dapat mengerti dan menyukai cerita yang dibacakan oleh guru.
Komponen-komponen bercerita adalah dalam bercerita harus memiliki sebuah
 1. tema, karena tema dalam sebuah cerita menjadi dasar bagi berkembangnya cerita.
 2. Latar dalam sebuah cerita merupakan tempat, hubungan waktu, dan lingkungan sosial yang yang terjadi dalam cerita.
3. Tokoh yang hadir dalam cerita sebagai pembawa pesan yang ingin disampaikan oleh pencerita kepada pendengar.
4. Alur merupakan rangkaian kejadian yang dihubungkan secara sebab akibat.
C.  Meningkatkan kemampuan berbicara melalui cerita                         
            Dalam kehidupan sehari-hari siswa dihadapkan dengan berbagai kegiatan yang menuntut keterampilan berbicara. Agar siswa dapat meningkatkan kemampuan berbicaranya, guru dapat menggunakan metode bercerita dalam proses pembelajarannya. Karena dalam bercerita siswa dapat mengekspresikan diri sehingga secara langsung dapat melatih kemampuan berbahasanya.
            Dalam bercerita metode bercerita sangat penting peranannya, karena metode merupakan cara dalam mencapai tuuan dalam pembelajaran.
            Menurut Masitoh (2008:103), kemampuan guru dalam bercerita harus didukung dengan cerita yang baik pula yaitu dengan criteria:
1.     Dalam sebuah cerita, cerita harus dapat menarik dan memihak perhatian guru itu sendiri.
2.     Dalam sebuah cerita, cerita harus disesuaikan dengan kepribadian anak, gaya, dan bakat anak.
3.     Dalam cerita, cerita itu harus sesuai dengan tingkat usia dan anak mampu memahami isi cerita.
Dalam bercerita ada langkah-langkah yang harus ditempuh agar pembelajaran keterampilan berbicara dapat berjalan dengan baik, yaitu:
1.     Sebelum memulai bercerita, guru sebelumnya menjelaskan tujuan pembelajaran atau KD yang akan di ajarkan.
2.     Setelah itu guru menceritakan cerita di depan siswa dengan cerita yang menarik tentunya. Misalnya dongeng.
3.     Setelah mendengarkan cerita yang di ceritakan oleh guru, anak diberi sebuah cerita dan diminta menceritakan cerita itu di depan kelas. Namun, jika harus mendemonstrasikannya pada saat itu juga anak dapat memilih sendiri cerita yang dianggap oleh anak menarik.
4.     Agar semua siswa mendapat giliran, proses penunjukan dapat dilakukan dengan cara mengundi maupun sesuai absen.
5.     Setelah anak sudah bercerita di depan kelas, guru melakukan penilaian dan evaluasi di akhir pembelajaran.
 
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Berdasarkan penjelasan di atas dapat diambil kesimpulan mengenai pengertian berbicara menurut para ahli seperti Djago Tarigan (1990:149), berbicara merupakan keterampilan menyampaikan pesan melalui bahasa lisan. Sedangkan menurut H.G. Tarigan (1998:15),berbicara adalah kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan serta menyampaikan pikiran,gagasan dan perasaan.
Bercerita merupakan kegiatan menyampaikan suatu kisah yang telah terjadi baik kejadian yang benar-benar terjadi maupun kejadian hasil rekayasa. Dalam bercerita memerlukan suatu metode yang tepat agar mencapai tujuan dalam pembelajaran, dalam hal ini yaitu berbicara.    
            Dalam kehidupan sehari-hari siswa dihadapkan dengan berbagai kegiatan yang menuntut keterampilan berbicara. Agar siswa dapat meningkatkan kemampuan berbicaranya, guru dapat menggunakan metode bercerita dalam proses pembelajarannya. Karena dalam bercerita siswa dapat mengekspresikan diri sehingga secara langsung dapat melatih kemampuan berbahasanya.
Saran
            Sebagai calon guru yang baik, mengajarakan berbicara melalui metode berrcerita merupakan salah satu metode yang tepat. Namun keberhasilan pembelajarannya ssangat ditentukan bagaimana cara guru dalam bercerita. Disarankan cerita yang akan diceritakan merupakan cerita atau dongeng yang menarik. Ketika bercerita harus memperhatika baik itu intonasi, lafal, runtutan cerita, dan penyampaian yang ekspresif.

daftar pustaka
 
Djuanda, Dadan. 2008. Pembelajaran Keterampilan Berbahasa Indonesia di  Sekolah Dasar. Bandung : Pustaka Latifah.
Rofi’udin, Ahmad dan Zuhdi, Darmiyati. 1999. Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Kelas Tinggi. Jakarta : Depdikbud